• Ternyata Bangunan Adat Ini Sudah Anti Gempa

    Dua gempa berkekuatan 7 Taraf Richter (SR) gak dapat membuat perubahan dikit juga bentuk Masjid Bayan Beleq di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) . 

     

    Kayu-kayu penyangga dan dinding dari anyaman bambu pada masjid ini terus berdiri tegak, menumpang susunan pokok bangunan. Walaupun sebenarnya, jarak pusat gempa dengan masjid cuma kurang lebih 30 km. saja. 

     

    Situasi demikian sebaliknya malahan menerpa pagar beton yg membentang di ruang masuk area cagar budaya itu. Seluruhnya bagiannya luluh lantak serta berhamburan ke Jl. Raya Bayan. 

     

    Bukan sekali Masjid Bayan Beleq mampu bertahan dari gempa. Tubuh Meteorologi, Klimatologi, serta Geofisika (BMKG) mencatat, sejak mulai akhir masa ke-19, Lombok telah tujuh kali diguncang gempa berkekuatan besar. Akan tetapi, rupa bangunan itu terus gak berganti. 

     

    Arsitekturnya gak elegan. Kontur serta bahan bangunan masjid ini malahan kalah saing dibanding rumah-rumah masyarakat disekelilingnya. 

     

    Bangunan pokok masjid memiliki ukuran 9x9 mtr.. Tidaklah ada area dalam bangunan pokok juga sekat pemisah pada lelaki serta wanita. Konon, jemaah wanita tidak bisa masuk ke masjid itu. 

     

    Tanahnya tidak dilapis tegel atau style keramik berbeda. Sekedar tanah liat biasa tertutup tikar buluh. Dindingnya rendah, cuma kurang lebih 1, 5 mtr., seluruhnya murni terbuat dari anyaman bambu atau dalam bahasa lokal dimaksud bedhek. 

     

    Ada empat Soko Guru atau tiang pokok di bagian tengah area masjid. Keempatnya terbuat dari kayu nangka serta tiap-tiapnya diambil dari empat dusun di Lombok. Keterwakilan serta persatuan umat jadi arti dalam penentuan kayu-kayu itu. 

     

    Pintu masjid satu. Mimbarnya ada di samping bedug yg terkait di sisi rangka pokok bangunan. Semuanya terbuat dari gabungan kayu serta bambu. 

     

    Atapnya berupa sektor bersisi empat yg meruncing ke atas, tersusun dari bilah bambu serta tertutupi dengan serat-serat jerami. Bangunan masjid berdiri diatas landasan batu-batu kali besar yg diatur serupa panggung. 

     

    Lamun kuno, tiap-tiap unsur kearifan lokal yg terdapat pada tiap-tiap pojok bangunan masjid malahan jadi pelindung dari tragedi alam yg gak dapat diperkirakan. Buktinya, masjid ini dapat terus berdiri walau usianya telah menggapai 30 dekade. 

     

    Tetap di Bayan, kurang lebih 15 menit perjalanan mobil dari masjid menuju utara, ada rumah masyarakat yang gak remuk walau udah diguncang gempa besar berulang-kali. 

     

    Rumah-rumah itu ada pada area Desa Kebiasaan Segenter. Desanya serupa ide rumah cluster yg ada pada kota-kota besar. Cuma ada kurang lebih 30 rumah dengan satu pagar mengitari seluruhnya desa. 

     

    Perbedaannya, pagar di Segenter bukan besi juga beton, cuma batang-batang serupa pohon angsana yg biasa ditanam di pinggir-pinggir jalan besar menjadi peneduh. 

     

    Desa Segenter ikut ditempati penduduk Sasak, suku asli Lombok. Namun, bangunan rumah mereka gak demikian serupa dengan yg dipunyai penduduk Sasak yang lain di Desa Ende. 

     

    Selama penilaian Beritagar. id, Sabtu (18/8/2018) , tidak ada satu juga rumah yg mempunyai atap menjulang tinggi seperti bangunan yg biasa dipakai menjadi lumbung padi penduduk Sasak. 

     

    Bangunan di Segenter lebih serupa dengan susunan Masjid Bayan Beleq. Nasibnya pascagempa ikut sama. Tembok-tembok bambunya tetap berdiri tangguh. Pelindung atapnya tetap melekat erat, membuat perlindungan semua piranti yg ada pada dalamnya. 

     

    Keadaan di rumah temaram. Tidaklah ada sinar listrik, cuma sinaran matahari yg masuk lewat sekat-sekat anyaman bambu. Udara yang merasa di rumah itu demikian lembab. 

     

    Tidak ada sekat area di dalam rumah. Tiap-tiap pojok dibikin ikuti kepentingan ; pojok kanan meja makan serta tempat tidur bersama-sama tali gantung buat baju, sesaat pojok kiri dapur serta tempat menyimpan beberapa bahan makanan seperti beras serta jagung. 

     

    Jangan sampai renungkan dapur yg fancy. Dapurnya melekat di tanah, diatur dari tiga bebatuan yg di dalamnya di isi kayu-kayu bakar. Panggilan lokal buat area itu yakni amben belek. 

     

    Di rumah ada kamar panggung. Mereka menyebut Inan Belek, kamar teristimewa buat pengantin baru hingga sampai tiga hari selesai pernikahan. Kalaupun telah melalui tiga hari, mereka dapat tidur kembali dibawah. Sesaat, area itu tetap akan dilewatkan kosong hingga sampai ada begawi yang lain. 

     

    Misanem (33) , satu diantaranya pemilik rumah menyebutkan, rumah itu merupakan peninggalan turun-temurun keluarga suaminya. Ia gak hapal telah berapakah lama keluarga suaminya tinggal disana. Akan tetapi satu soal yg tentu, bangunan disana tidak sempat berganti. 

     

    " Tidak bisa di renovasi, jadi dari dahulu ya telah berikut, " kata ibu lima anak ini. 

     

    Misanem mengakui gak sibuk bersihkan rumah itu. Gak butuh dipel, cukuplah disapu dengan lidi. Debu-debu yg melekat pada kayu ikut terkadang dilewatkan demikian saja. " Toh, memiliki bentuk sama seperti tanah, " sambungnya. 

     

    Artikel Lainnya : perkiraan harga membangun rumah baru

     

    Setiap rumah mempunyai berugak, sama dengan pendopo yang terbuat dari gabungan kayu, bambu, serta ijuk. Fungsinya buat tempat kumpul bersama-sama tetangga. 

     

    Meski situasi rumah serta desa mereka baik-baik saja, gempa yg berlangsung dengan cara tidak diduga itu terus tinggalkan trauma pada masyarakat. Dua minggu pascagempa besar, 5 Agustus 2018, masyarakat Sigenter tidak berani tidur di rumah. 

     

    Mereka menentukan buat tidur di tikar-tikar yg di letakkan pada ruang lega pada gang-gang rumah di desa. " Kelak saja, kalaupun gempa telah betul-betul hilang, " tukas Misanem. 

     

    Tahan gempa ala negara 

    Berkaitan dengan rumah masyarakat yg hancur karena gempa, pemerintah pusat mengakui miliki penyelesaiannya. 

     

    Waktu bertandang ke pengungsian di Tanjung, Lombok Utara, Senin (13/8/2018) malam, Presiden Joko " Jokowi " Widodo, mengenalkan tehnologi yg disebut RISHA alias Rumah Instant Simple Sehat. 

     

    Dalam jualannya, Jokowi mengakui rumah ini tahan pada guncangan gempa yg kekuatannya dapat sampai 8 SR. 

     

    Tehnologi seperti ini telah terlebih dahulu dimanfaatkan dalam proses rehabilitasi rumah pascagempa serta tsunami di Aceh, 14 tahun yang lalu. Tukasnya, telah lebih dari 10 ribu unit dibuat di Aceh. 

     

    Situs sah Tubuh Nasional Penanggulangan Tragedi (BNPB) menuturkan, RISHA dibikin dengan memanfaatkan ide knock down. Ide ini menghapus semen serta bata, ditukar dengan memadukan panel-panel beton dengan baut. 

     

    Rumah ini penuhi Standard Nasional Indonesia (SNI) . Kecuali kuat guncangan, RISHA diklaim bertambah cepat dibuat. 

     

    Standard pokok bangunan tahan gempa yg di rekomendasikan Kementerian Pekerjaan Umum serta Perumahan Rakyat (PUPR) . 

    Standard pokok bangunan tahan gempa yg di rekomendasikan Kementerian Pekerjaan Umum serta Perumahan Rakyat (PUPR) . | Sandy Nurdiansyah /Beritagar. id 

    Mengacu perkataan Wakil Presiden Jusuf Kalla di pengungsian Lombok Utara, kemarin, seluruh proses rehabilitasi di Lombok dapat rampung dalam kurun waktu enam bulan. 

     

    Tetapi, ongkos pembangunan buat satu unit RISHA dengan layanan standard, satu kamar tidur serta kamar mandi, diperhitungkan menggapai Rp90 juta. 

     

    Sesaat, ongkos perubahan rumah dengan rusaknya berat karena gempa cuma sebesar Rp50 juta. 

     

    Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid menjelaskan, bekas ongkos pembangunan semestinya dapat di tanggung bila penyelesaiannya dilaksanakan dengan cara gotong royong oleh penduduk. 

     

    Kembali pada kebiasaan 

    Runtunan gempa yg menerjang Lombok buka mata sejumlah penduduk buat terus merendah didepan alam. 

     

    Kristin (40) , masyarakat Suela, Lombok Timur, mengakui kapok punyai rumah memiliki bahan basic beton atau bata. Ia yakini alam telah kirim pesan sejak mulai terdahulu, akan tetapi manusia yg tetap ingkar. 

     

    " Kita telah ditunjukkin dari dahulu, rumah kebiasaan kayu. Tetapi kitanya yg sombong, maunya rumah beton. Tampak elit, dapat dicat warna-warni, " paparnya, Minggu (19/8/2018) . 

     

    Bila ada rizki, juga bila uang dari pemerintah cepat cair, Kristin mengakui tidak bakalan aneh-aneh. Tukasnya, ia dapat mendirikan rumah simple saja walau gak yakini uang dari pemerintah bakalan cukuplah karenanya. 

     

    Menurut dia, rumah kayu tambah mahal dari pada beton. Ditambah lagi kalaupun memanfaatkan bahan kayu yg tahan rayap. Belum pula cost buat membayar tukang bangunan. 

     

    " Di sini tarif tukang dapat Rp150. 000 perhari. Kalaupun borongan dapat tambah murah. Tetapi mungkin dapat naik kembali lantaran gempa, " sambungnya. 

     

    Hasrat Kristin nyatanya telah dibaca entrepreneur. Harga bambu-bambu dan bahan basic rumah kayu berbeda yg, diantaranya, di jual di Selong, Lombok Timur, telah mulai melonjak. 

     

    Berkah, si penjual, mengaku pascagempa ini beberapa orang yg hadir ke gerainya buat beli bambu. Bukan buat rumah, tapi jadi penyangga tenda-tenda pengungsian. 

     

    Rata-rata, satu lembar bambu ia jual pada harga Rp15. 000, tetapi saat ini, harga jualnya fleksibel pada rentang Rp18. 000 hingga sampai Rp20. 000. Terkait pembelinya, bawel ataukah tidak. Bertambah bawel, bertambah tidak dapat ditawar, paparnya. 

     

    Proses pengiriman jadi pertimbangan buat Berkah menambah harga jual barangnya. 

     

    " Saat ini kalaupun pengen kirim ke Sembalun (Lombok Timur) , aksesnya kan ikut susah. Kalaupun pengen pesan juga banyak tidak dapat gunakan motor bolak-balik, " sambung Berkah. 

     

    Buat satu rumah dengan satu hingga sampai dua kamar, Berkah mengira-ngira kepentingan bambunya menggapai 500 hingga sampai 1. 000 lembar. Jumlahnya kepentingan buat atap ilalang dapat menggapai dua beberapa ribu lebar, dengan per lembarnya di jual seharga Rp10. 000. 

     

    Bila mau memanfaatkan bagian kayu, jadi konsumen butuh merogoh kocek sampai Rp3 juta-an buat satu kubik kayu. Sesaat, tiap-tiap satu tempat tinggalnya diperhitungkan dibutuhkan kurang lebih 10 kubik kayu. 

     

    Jung (26) , penjual berbeda di ruang itu, menjelaskan jatah Rp50 juta yg dijanjikan pemerintah kemungkinan cukuplah buat membuat satu rumah bambu yg amat simple. 

     

    Di gerainya, Jung ikut jual rumah panggung unik Sasak dengan ukuran 4x3, 5 mtr. yg rata-rata dipesan oleh resor-resor di Gili serta Bali. 

     

    Buat rumah panggung tiada sekat, dapur, serta kamar mandi itu, Jung membanderol harga Rp25 juta. Sisi bawah panggungnya dapat diubah, kalaupun konsumen pengen. Kelak biayanya sesuaikan. 

     

    Proses pembangunannya gak lama, ialah kurang lebih 2 minggu. Dari sisi perawatan, Jung lihat masalah yg seringkali berlangsung pada rumah-rumah mode ini merupakan atapnya yg gampang lapuk. 

     

    Karenanya, Jung memberi pesan atap ilalangnya ditukar tiap-tiap tiga tahun sekali. 

     

    Begitu pula dengan bambunya. Kalaupun mau penampilan bambu tetap baru serta bebas dari rayap, Jung memanfaatkan sistem pencucian serta penjemuran sepanjang sekian hari sebelum bambu diplester serta dipakai. 

     

    Sesaat Berkah miliki teknik berbeda. Buat menjauhkan rayap, dianya menampik memanfaatkan bambu yg ditebang dalam hari Minggu serta Senin. 

     

    " Gak mesti di tanya kenapanya. Itu perintah leluhur, " tutup Berkah sekalian ketawa.

     


  • Comments

    No comments yet

    Suivre le flux RSS des commentaires


    Add comment

    Name / User name:

    E-mail (optional):

    Website (optional):

    Comment: